Literatur Stilistika Menurut Ilmu Humaniora | Seputar Pengenalan Stilistika

    Stilistika menjadi pokok pembahasan mengenai ilmu bahasa. Ruang lingkup stilistika dianggap sangat luas karena berkaitan dengan gaya bahasa terhadap aspek yang bermacam-macam. Ratna (2013:18) menjelaskan bahwa stilistika ilmu sangat luas apabila dikaitkan dengan pengartian gaya bahasa secara luas yaitu penggunaan bahasa, karya sastra, karya seni, dan ilmu pengetahuan. Maksud dari ilmu pengetahuan tersebut adalah gaya bahasa yang menciptakan sebuah ciri khas baik secara khazanah sastra, bahasa maupun budaya. Hal tersebut menunjukkan stilistika membicarakan tentang karakter bahasa yang berbeda-beda.

    Stilistika merupakan ilmu tentang gaya. Stilistika berasal dari bahasa inggris yaitu stylistic atau style yaitu studi mengenai gaya bahasa dan dapat mengkaji suatu penggunaan bahasa yang memiliki peran besar dalam proses analisis terhadap gaya bahasa. Hal ini dapat dikatakan yaitu sebagai majas. Secara umum majas terbagi menjadi ke dalam tiga jenis yaitu majas perbandingan, majas pertentangan, dan majas pertautan.

1. Majas Perbandingan

    Majas perbandingan adalah gaya bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial untuk membandingkan atau menyadingkan sesuatu dengan yang lainnya. Majas ini dapat digunakan dengan menyamakan, melebihkan ataupun menggantikan. Majas perbandingan memiliki beberapa wujud seperti perumpamaan, metafora, personifikasi, depersonifikasi, alegori, antitesis, pleonasme, perfrasis, antisipasi atau prolepsis, dan koreksio atau epanortesis.

2. Majas Pertentangan

    Majas pertentangan adalah gaya bahasa digunakan terhadap pemaknaan yang terbalik atau bertentangan. Majas ini memiliki beberapa wujud seperti hiperbola, litotes, ironi, oksimoron, paronomasia, paralepsis, zeugma dan silepsis, satire, inuendo, antifrasis, paradoks, klimaks, antiklimaks, apostrof, anastrof atau inversi, apofasis atau preterisio, histeron proteron, hipalase, sinisme, sarkasme.

3. Majas Pertautan

    Majas pertautan adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menghubungkan terhadap hal-hal yang disampaikan. Majas pertautan memiliki beberapa wujud seperti metonimia, sinekdoke, alusi, eufemisme, eponim, epitet, antonomasia, erotesis, paralelisme, elipsis, gradasi, asindenton, polisindenton.

    Pada dasarnya gaya bahasa di dalam lingkup kajian stilistika mampu untuk dimanfaatkan dalam bidang akademis yaitu bahasa dan sastra. Gaya bahasa yang diciptakan karena menyangkut penggunaan bahasa secara khusus sebagai sumber ciri khas. Kaitannya bahasa, sastra dan budaya terhadap lingkup kajian stilistika dengan mempertimbangkan atas hakikat bahasa sebagai majas, menjelaskan ilmu gaya bahasa secara luas baik secara makro yaitu kepenulisan dan mikro di lingkup sastra, serta dapat menjelaskan stilistika sebagai pokok pembahasan antara bahasa dan sastra.

Referensi:

Ratna, Prof. Dr. Nyoman Kutha. 2013. Stilistika Kajian Puitika Bahasa, Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Wulandari, dkk. 2016. “Majas Dalam Kumpulan Puisi Dan Pembelajarannya Di SMA”. Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya). Vol 4 No. 1. Hal. 1-10. http://jurnal.fkip.unila.ac.id/index.php/BINDO1/article/view/10401/7112. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

VARIAN-VARIAN KOSAKATA DALAM DIALEK AREKAN ATAU BOSO SUROBOYOAN SEBAGAI CIRI KHAS MASYARAKAT SURABAYA

Implementasi Pepatah Jawa Lama Urip Iku Urup dalam Kehidupan Sosial Modern

FOLKLOR | Revitalisasi Nilai Kearifan Lokal Pepatah Mite Rakyat “Bangun Siang, Rezeki di Patok Ayam”