FOLKLOR | Revitalisasi Nilai Kearifan Lokal Pepatah Mite Rakyat “Bangun Siang, Rezeki di Patok Ayam”
PROLOG
Folklor indonesia sangat beragam dengan aneka versi dan bentuk atas simbolik di suatu daerah tertentu. Folklor yang ditinggalkan atau diwariskan oleh para leluhur (nenek moyang) adalah kekayaan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan karakter kehidupan masyarakat indonesia. Sentuhan historisnya memunculkan pemaknaan empiris nilai – nilai yang berada di dalam folklor secara aktualisasi yang diwariskan oleh empunya.
Definisi folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar
dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda.
baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau
alat pengingat. Suatu folklor akan tetap memiliki identitas dari diketahuinya
peredaran bentuk tersebut. Menurut
Dundes folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal
fisik, sosial, dan kebudayaan. Sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok
lainnya.
Ciri-ciri kebudayaan folklor supaya dapat dibedakan dengan kebudayaan lain dengan dikenalnya perwujudan tradisi oleh para leluhur kepada generasinya paling sedikit 2 generasi. Berikut ciri-ciri folklor yang dirumuskan:
- Pewaris dan penyebaran kebudayaan folklor dilakukan secara lisan melalui mulut ke mulut atau dengan gerak isyarat dan alat pembantu,
- Folklor bersifat tradisional yang disebarkan secara kolektif dengan bentuk relatif tetap ataupun dalam bentuk standar,
- Folklor memiliki beberapa versi dan varian yang berbeda,
- Folklor bersifat anonim (nama pencipta sudah tidak diketahui lagi),
- Folklor mempunyai bentuk rumusan atau berpola,
- Folklor mempunyai fungsi dalam kehidupan di suatu kolektif,
- Folklor bersifat pralogis (tidak sesuai dengan logika umum),
- Folklor menjadi milik bersama dari kolektif tertentu,
- Folklor bersifat polos dan lugu,
Hal ini dapat diterangkan bahwa folklor memiliki arti yang lebih luas
daripada cakupan tradisi lisan. Folklor dikembangkan oleh sejarah sebagai suatu
kedisiplinan yang berdiri sendiri dengan pemerhatian yang lebih atas penelitian
manusia dan tradisinya.
Bentuk-bentuk folklor sangat bervarian, terutama salah satunya bentuk
ungkapan tradisional yaitu pepatah dan mitos rakyat. Dengan unsur kebudayaan
dalam sistem bahasa, sistem pengetahuan, sistem kemasyarakatan dapat menjadikan
suatu tradisi untuk dilestarikan ke generasi. Mite/mitos menurut Bascom adalah
cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh
empunya cerita. Mite secara umum mengisahkan terjadinya alam semesta, dunia,
manusia, terjadinya hal yang tidak biasa, bentuk khas binatang, bentuk
topografi, gejala alam dan sebagainya. Mite juga mengisahkan pertualangan para
dewa, kisah perang dan kehidupan yang terjadi para dewa. (Bascom, 1965b: 4-5).
Pepatah mite yang sering kita dengar dari
ucapan orang tua atau kakek/nenek mengingatkan kebiasaan yang bisa membuat
buang-buang waktu. Secara pengalaman pribadi seringkali
saya mendengar pepatah dari orangtua jika bangun tidur itu “jangan terlalu
siang nanti rezekinya di patok ayam”. Dengan
hal itu menjadi ungkapan lisan yang terjadi di kehidupan orang lain. Dengan
turun temurunnya pepatah tersebut terdapat suatu maksud makna di balik
kata/diksi rezekinya di patok ayam. Konsep-konsep pepatah mite ini dapat
diartikan sebagaimana Seseorang yang sering kesiangan pada saat bangun tidur
itu identik dengan seseorang yang pemalas. Seseorang yang bersemangat
tentu akan bangun pagi setiap harinya. Ketika seseorang bangun tidur kesiangan
maka seseorang ini akan melewatkan hal-hal penting yang akan
bermanfaat untuk tubuhnya.
Pemerhatian waktu dalam kehidupan sehari-hari menjadi landasan manusia yang bernyawa adalah seseorang yang berusaha dengan seniat mungkin untuk hidup dari standar untuk tujuan maju. Maka hal itu para leluhur mengungkapkan folklor lisan ini kepada generasi dengan melihat kondisi yang terbilang menyia-nyiakan. Nasihat ungkapan ini juga dapat dimaknai dengan seseorang yang bangun kesiangan akan malas untuk beraktivitas. Acuan kemalasan ini dapat menimbulkan waktu untuk bekerja itu telat karena bangun kesiangan, perasaan yang malas untuk libur kerja. Beserta akibatnya gaji atau rezeki akan dipotong. Dan adapula pemaknaan dengan seseorang yang bangun kesiangan akan melakukan sebuah aktivitas atau pekerjaan lebih sedikit. Seseorang bangun kesiangan tentunya seseorang ini akan melakukan aktivitas atau pekerjaannya itu lebih sedikit jika dibandingkan dengan orang lain. Seperti rezeki angkutan umum yang narik penumpangnya di pagi hari serta aktivitas lainnya.
Pepatah Mite Rakyat “Bangun Siang, Rezeki di Patok Ayam” sebagai pengingat dan ilmu pengetahuan yang dilestarikan di kehidupan masyarakat dan generasi selanjutnya karena Rezeki tidak selalu berupa duit atau mata uang, menatap wajah Bapak, mencium tangan Ibu, bercanda gurau dengan Adik, berdoa di pagi hari pada yang maha kuasa adalah rezeki yang agung.
Maka ungkapan pepatah mitos jangan sampai rezeki itu dipatok ayam karena telat bangun pagi. Hal itu dikembangkan oleh sejarah hingga saat ini di kehidupan masyarakat. Kejadian/peristiwa ini bukan saja saya alami di kota surabaya tetapi pepatah ini menjalar ke bagian daerah indonesia, karena pepatah ini terbangun oleh ungkapan orang tua yang melestarikannya. Dari asal-usulnya secara logika ayam biasanya bangun lebih duluan dibanding manusia. Hal itu dikaitkan karena mencari rezeki tidak harus menunggu datangnya emosional dari keinginan. ayam yang biasanya bakal merumput buat cari makan sendiri dan berkokok membangunkan manusia lebih awal. Sebelum itu ayam dikasih makan sama pemiliknya mereka mencari makan lebih dulu. Dapat dikaitkan manusia dan ayam dalam perbandingan tersebut bukan malah bangun tidur malas-malasan dan malah santai untuk menyempurnakan keinginan.
Unsur kebudayaan dari folklor lisan ini dapat diterima oleh seluruh kolektif dengan pemaknaan maksud pencapaian rezeki tidak menunggu datangnya emosional keinginan. Pengalaman saya di kota surabaya dengan ungkapan yang terus diingatkan oleh orang tua dari kecil menjadikan sesuatu pengingat hingga tumbuh dewasa saat ini. budaya kolektif tidak hanya saja berlaku untuk pribadi sendiri tetapi secara menjalar ke seluruh kolektif masyarakat.
Manfaat bangun pagi menjadikan seseorang itu lebih semangat dan aktif mencari rezeki di pagi hari. Keefektifan pekerjaan tidak membuat seseorang menjadi stres. Dan juga waktu untuk segala sesuatu tidak ditanggung oleh orang lain melainkan diri sendiri. Hal ini orang yang bersegera menyambut rezeki di pagi hari buta adalah orang yang mudah mendapatkan rezeki dan kesuksesan dalam hidup.
Komentar
Posting Komentar