VARIAN-VARIAN KOSAKATA DALAM DIALEK AREKAN ATAU BOSO SUROBOYOAN SEBAGAI CIRI KHAS MASYARAKAT SURABAYA
PROLOG
Budaya dan bahasa mempunyai keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan karena bahasa termasuk dalam sebuah kebudayaan masyarakat dan kesejajaran bahasa dan budaya disebut hubungan koordinatif. Keragaman tersebut mencerminkan seluruh aspek kehidupan bangsa baik seperti seni, tradisi atau kepercayaan, maupun bahasa. Kebudayaan bahasa jawa adalah salah satu budaya dan dikatakan sebagai dialek terhadap masyarakat Jawa. Dengan kata lain, setiap masyarakat di Indonesia dipastikan memiliki dan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi sosial. Landasan tersebut mengacu pada pandangan Soeparno (2002:5) bahwa tidak ada masyarakat tanpa bahasa dan tidak ada pula bahasa tanpa masyarakat. Hal itu mengingat bahwa bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat Jawa sebagai sarana pengungkapan pikiran yang logis, sistematis, dan terstruktur secara interaksi kepada masyarakat penutur Jawa.
Masyarakat Jawa sering dikaitkan dengan kesopan santunan dan beretika kepada orang lain. sebagaimana tandanya melalui bahasa yang dituturkan terdapat unggah-ungguh bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi. Hal ini karena masyarakat Jawa mempunyai nilai rasa bahasa yang besar dalam penerapan terhadap situasi dan kondisi tertentu seperti tercantum pada istilah bahasa Jawa yaitu “Wong Jawa wis ilang Jawane lan mestine wong Jawa ojo nganti ilang Jawane” yang mengartikan bahwa ‘masyarakat sudah hilang Jawanya dan seharusnya masyarakat Jawa jangan hilang atau lupa kejawaanya. Bahasa Jawa sudah menjadi identitas bangsa yang tidak terpisah dari sistem sosial dan kebudayaan masyarakat tuturnya. Secara umum bahwa bahasa pasti membutuhkan masyarakat agar bisa hidup karena bahasa selalu berubah dan berkembang seiring dengan penggunaan bahasa dalam suatu komunitas tertentu, sehingga hal itu menjadi ciri khas yang berlansung dalam konteks sosial dan budaya yang ada dan mencerminkan dari bahasa yang dituturkan. Bahasa jawa dikatakan sebagai suatu dialek dan juga memiliki subdialek yang terbagi di beberapa wilayah sesuai etnik Jawa baik wilayah kota maupun di wilayah kabupaten.
Pemetaan bahasa Jawa di beberapa wilayah menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan dilaksanakan oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Jawa dan Bali. Wilayah pemetaan bahasa tersebut meliputi dari beberapa provinsi yaitu Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Banten, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Timur. Hal tersebut dalam segi tuturan bahasa termasuk dalam dialek bahasa Jawa dan dikatakan sebagai ragam bahasa geografis atau variasi bahasa. Bahasa Jawa yang dituturkan di Provinsi Jawa Timur terdiri atas empat dialek, yaitu (1) dialek Jawa Timur, (2) dialek Osing, (3) dialek Tengger, dan (4) dialek Solo-Yogya. Dialek Solo-Yogya dituturkan oleh masyarakat di Madiun dan sekitarnya sampai ke arah barat (ke Jawa Tengah). Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, perbedaan keempat dialek itu berkisar 52%—64%. Sedangkan dialek Jawa Timur menyebar ke arah timur sampai ke Jember, ke arah utara sampai Kabupaten Malang, dan ke arah Barat sampai Bojonegoro; dialek Osing dituturkan di Kabupaten Banyuwangi, khususnya di kecamatan Banyuwangi, Srono, dan Kalipuro; Dialek Tengger dituturkan oleh masyarakat di Tengger, khususnya di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo dan juga di sekitar Surabaya.
Dialek bahasa Jawa di wilayah kota Surabaya memiliki dialek yang unik sebagai ciri khas budaya dari masyarakat surabaya yaitu dialek Arekan atau Boso Suroboyoan. Sebagaimana ragam bahasa merupakan suatu variasi dari bahasa terhadap kelompok sosial di wilayah tertentu dan menjadi masyarakat tutur dengan jumlahnya yang cenderung relatif. Dari dialek Arekan ini memiliki tingkat pelafalannya dikategorikan sebagi bahasa kasar. Hal tersebut berkaitan dengan tingkatan dalam bahasa Jawa seperti Ngoko, Krama Inggil, dan Krama Madya. Bahasa Ngoko tersebut juga bisa digunakan secara bahasa oleh masyarakat Surabaya karena hal itu sudah menjadi ciri khas tersendiri dalam berkomunikasi. Dialek Arekan yang dituturkan oleh masyarakat Surabaya sering sekali membuat perspektif dari masyarakat di luar kota Surabaya meskipun terdapat kesamaan dalam etnik Jawa ataupun paham dan fasih mengenai bahasa Jawa. Contoh masyarakat surabaya berkomunikasi dengan masyarakat luar surabaya, sebagai berikut.
|
No. |
Kosakata |
Transkripsi Fonetis |
Makna |
|
1. |
gurung |
gurUŋ |
belum |
|
2. |
nggapleki |
ŋgapleɁi |
menjengkelkan |
|
3. |
babah |
babah |
biarlah |
|
4. |
gudhuk |
gudhuɁ |
bukan |
|
5. |
embong |
ɛmbɔŋ |
jalan raya |
|
6. |
Pongor/santap/gibeng |
pɔŋɔr/santap/gibəŋ |
pukul |
|
7. |
kathuken |
kathuɁən |
kedinginan |
|
8. |
deleh |
dɛlɛh |
taruh |
|
9. |
kek’ono |
kɛɁ’onɔ |
berilah |
|
10. |
arek |
arɛɁ |
anak |
|
11. |
atek |
atɛɁ |
pakai |
|
12. |
cek’e |
cɛɁ’ɛ |
supaya |
|
13. |
mbadok |
mbadɔɁ |
makan |
|
14. |
ngandok |
ŋandɔɁ |
makan di tempat |
|
15. |
cangkruk |
caŋkrUɁ |
nongkrong |
|
16. |
matek |
matɛɁ |
mati |
|
17. |
sampek |
sampɛɁ |
sampai |
|
18. |
masiyo |
masiyɔ |
walaupun |
|
19. |
menne |
mənnɛ |
besok |
|
20. |
ladeng |
ladɛŋ |
pisau |
|
21. |
koen |
kɔen |
kamu |
|
22. |
lugur |
lugUr |
jatuh |
|
23. |
dhukur |
ḍukUr |
tinggi |
|
24. |
pancet |
pancət |
tetap |
|
25. |
thithik |
thithiɁ |
sedikit |
B. Deskripsi Varian-Varian Kosakata dalam Dialek Arekan
1. Gurung
Kosakata “gurung” yang berarti ‘belum’. Pemaknaan yang
diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu “durung”
atau “dereng”. Kosakata ini sering sekali digunakan oleh masyarakat
Surabaya bahkan beberapa lingkup di wilayah Jawa Timur lainnya juga memakai
kosakata tersebut seperti Sidoarjo, Lamongan, Gresik, Mojokerto, Malang, Blitar
dan wilayah lainnya. Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat
dicontohkan sebagai berikut.
co/: “awakmu
gurung absen loh, ndang absenno”
‘kamu belum absen loh, cepat absen’
2. nggapleki
Kosakata “nggapleki” yang berarti ‘menjengkelkan’. Pemaknaan
yang diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu
“megelno”. Kosakata ini sangat identik di Surabaya. Pada konteks tuturan
sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan sebagai berikut.
co/: “arek
iku ancene nggapleki kok”
‘anak itu memang menjengkelkan kok’
3. babah
Kosakata “babah” yang berarti ‘biarlah’. Pemaknaan
yang diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu
“sakkarep”. Terkadang masyarakat Surabaya juga menuturkan “sakkarep”.
Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan sebagai
berikut.
co/: “babahno,
wes koyok ngunu kok”
‘biarlah, sudah seperti itu kok’
4. gudhuk
Kosakata “gudhuk” yang berarti ‘bukan’. Pemaknaan yang
diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu “ora/dhuduk”.
Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan sebagai
berikut.
co/: “iku
gudhuk tekku”
‘itu bukan punyaku’
5. embong
Kosakata “embong” yang berarti ‘jalan raya’.
Kebanyakan masyarakat Surabaya sering menggunakan tuturan tersebut. Pemaknaan
yang diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu
“dalanan gede”. Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan
sebagai berikut.
co/: “ojok
main bal-balan nak embong loh”
‘jangan main sepak bola di jalan raya loh’
6. pongor/santap/gibeng
Kosakata “pongor/santap/gibeng” ini memiliki arti ‘pukul’.
Pemaknaan yang diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau
umumnya yaitu “gepuk”. Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat
dicontohkan sebagai berikut.
co/: “ojok
ngunu talah, tak pongor marine yo”
‘jangan begitu dong, kupukul habis ini ya’
7. kathuken
Kosakata “kathuken” yang berarti ‘kedinginan’. Pemaknaan
yang diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu
“kademmen”. Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat
dicontohkan sebagai berikut.
co/: “koen
gak kathuken ta?”
‘kamu tidak kedinginan ta’
8. deleh
Kosakata “deleh” yang berarti ‘taruh’. Pemaknaan yang
diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu “dekek”.
Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan sebagai
berikut.
co/: “tasmu
delehen sik”
‘tasmu taruh dulu’
9. kek’ono
Kosakata “kek’ono” yang berarti ‘berilah’. Pemaknaan
yang diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu
“menehi/kekno”. Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat
dicontohkan sebagai berikut.
co/: “duwekmu
kek’ono adekmu ae gawe jajan”
‘duitmu berilah ke adikmu saja buat/pakai jajan’
10. arek
Kosakata “arek” yang berarti ‘anak/teman’. Kebanyakan
masyarakat Surabaya sering menggunakan tuturan tersebut dan menjadi identik
ciri khas dari masyarakat Surabaya. Pemaknaan yang diambil sama dengan kosakata
bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu “bocah/putro/konco”. Pada
konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan sebagai berikut.
co/: “dulurmu
iku arek endi?”
‘saudaramu itu anak mana?”
11. atek
Kosakata “atek” yang berarti ‘pakai’. Pemaknaan yang
diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu “gawe”.
Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan sebagai
berikut.
co/: “nyuwek
klambimu atek opo?”
‘merobek bajumu pakai
apa?’
12. cek’e
Kosakata “cek’e” yang berarti ‘supaya’. Kosakata ini
kata yang sering digunakan oleh masyarakat Surabaya dalam menyampaikan konteks
solusi atau sejenisnya. Pemaknaan yang diambil sama dengan kosakata bahasa jawa
secara standar atau umumnya yaitu “ben”. Pada konteks tuturan sesuai dialek
Arekan dapat dicontohkan sebagai berikut.
co/: “dikei
worno sing apik ae cek’e ketok sangar ngunu”
‘dikasih warna yang bagus saja supaya
kelihatan keren begitu’
13. mbadok
Kosakata “mbadok” yang berarti ‘makan’. Pemaknaan yang
diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu “mangan”.
Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan sebagai
berikut.
co/: “keluargamu
mau mbadok nandi?”
‘keluargamu tadi makan dimana?’
14. ngandok
Kosakata “ngandok” yang berarti ‘makan di tempat’. Kosakata
ini sering dipakai pada situasi tertentu yaitu makan di warung/makan di
restoran. Pemaknaan yang diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara
standar atau umumnya yaitu “mangan ndek luar”. Pada konteks tuturan
sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan sebagai berikut.
co/:
“koen lapar gak? ayok ngandok nak penyetan pak rokim”
‘kamu lapar tidak? ayo makan di tempat
penyetan pak rokim’
15. cangkruk
Kosakata “cangkruk” yang berarti ‘nongkrong’. Pemaknaan
yang sejenisnya belum ada yang terdeteksi atau muncul dalam fenomena masyarakat
Jawa pada umumnya. Namun, kosakata cangkruk tersebut banyak digunakan
oleh masyarakat Surabaya bahkan masyarakat luar surabaya atau wilayah jawa
timur lainnya menuturkan kata “nongkrong” dan “cangkruk” dengan konteks di
warung kopi. Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan
sebagai berikut.
co/: “malmingan
cangkruk nandi iki?”
‘malam mingguan (malmingan) nongkrong di mana
ini?’
16. matek
Kosakata “matek” yang berarti ‘mati’. Pemaknaan yang
diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu “bongko/sedo”.
Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan sebagai
berikut.
co/: “kucingmu
kok matek, kenopo?”
‘kucingmu kok mati, kenapa?’
17. sampek
Kosakata “sampek” yang berarti ‘sampai’. Pemaknaan
yang diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu
“nganti”. Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat
dicontohkan sebagai berikut.
co/: “awakmu
wes sampek kota endi?”
‘kamu sudah sampai di kota mana?’
18. masiyo
Kosakata “masiyo” yang berarti ‘walaupun’. Pemaknaan
yang diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu
“senadyan/senajan”. Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat
dicontohkan sebagai berikut.
co/: “awakmu
medotno dee, masiyo dee gak peka nak awakmu”
‘kamu patahkan dia, walaupun dia tidak peka ke
kamu’
19. menne
Kosakata “menne” yang berarti ‘besok’. Pemaknaan yang
diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu “sesok/sesuk”.
Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan sebagai
berikut.
co/:
“menne wayahe pelajaran opo yo rek”
‘besok waktunya pelajaran apa ya rek’
20. ladeng
Kosakata “ladeng” yang berarti ‘pisau’. Pemaknaan yang
diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu “piso/marisan”.
Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan sebagai
berikut.
co/: “jukukno
ladeng nak dapur yo dek”
‘ambilkan pisau di dapur ya dek’
21. koen
Kosakata “koen” yang berarti ‘kamu’. Kosakata ini tidak hanya
digunakan masyarakat Surabaya saja melainkan beberapa wilayah sering
menggunakannya karena perkembangan yang begitu pesat terkait kebahasaan. Pemaknaan
yang diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu
“kowe”. Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan
sebagai berikut.
co/: “koen arep nandi?”
‘kamu mau kemana?’
22. lugur
Kosakata “lugur” yang berarti ‘jatuh’. Pemaknaan yang
diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu “tibo”.
Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan sebagai
berikut.
co/: “klambimu
loh lugur tekan jemuran”
‘bajumu itu loh jatuh dari jemuran’
23. dhukur
Kosakata “dhukur” yang berarti ‘tinggi’. Pemaknaan
yang diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu
“dhuwur”. Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat
dicontohkan sebagai berikut.
co/: “gedung
tunjungan iku lumayan dhukur yo”
‘gedung tunjungan itu lumayan tinggi ya’
24. Pancet
Kosakata “pancet” yang berarti ‘tetap’. Pemaknaan yang
diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu “panggah”.
Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan sebagai
berikut.
co/:
“uripmu pancet ae ngudoi wong liyo,bro”
‘hidupmu tetap saja menggoda orang lain, bro’
25. thithik
Kosakata “thithik” yang berarti ‘sedikit’. Pemaknaan
yang diambil sama dengan kosakata bahasa jawa secara standar atau umumnya yaitu
“sithik”. Pada konteks tuturan sesuai dialek Arekan dapat dicontohkan
sebagai berikut.
co/: “rujake
sing akeh yo mbok, ojok thithik-thithik nemen”
‘rujaknya yang banyak ya mbok, jangan terlalu
sedikit-sedikit’
Komentar
Posting Komentar