KUMPULAN PUISI "KARANGAN SEJAK DINI" KARYA MAULANA RIZKY PRATAMA
Aku santri, aku
mengenalmu
Mencatat 1596 dalam komunikasi peradaban
Budaya keislaman mengakar dalam bait-bait syair
Digagas dengan semangat juang oleh pribumi nusantara
Dikenal dengan cahaya abadi terhadap masa depan bangsa
‘Aku menemukan kesaksikan hingga sampai saat ini
Aku santri, aku
mengenalmu
Dini hari telah mengajarkanku untuk mencari ilmu
dalam pondok di tempatmu
Yang kutemukan:
Menanamkan budi luhur, berdikari, dan intelektual
Menguatkan daya pikir keislaman dalam pengetahuan
Menata pergaulan dalam ruang pendidikan
Aku santri, aku
mengenalmu
Menggenggam budaya dalam satu kesatuan,
Aku mengolah diri:
“Ya, ngopi, ngaji, ngabdi, ngantri, ngantukan”
Semua mengenalku dengan
mengenangmu
Aku santri, aku mengenalmu
BERANJAK BANGKIT
MENUJU PERADABAN EMAS
Karya : Maulana Rizky Pratama
Kutanyakan hari guru pada
Indonesia?
Aku generasi bengal yang susah mendatangkan peradaban
Usiaku menempuh jenjang yang mencatat sejarah kehidupan
Tak mampu untuk menyatakan;
Anak muda akan menyempurnakan revolusi bangsa
Anak muda akan menyongsong kekuatan kesatuan bangsa
Anak muda akan mengubah kunci harapan bangsa
Anak muda akan menunjukkan karakter yang berpendidikan
-Dimana letak emas yang kau bicarakan?
Sela-sela dunia yang tak
pernah memenjamkan waktu
Gabah padi mengoyak-ngoyak keutamaan pokok kehidupan
Terplontang planting untuk menghidupi secukupnya
Lihatlah Indonesia, Dimana letak emas yang kau bicarakan?
Lagi, kutanyakan hari
guru pada Indonesia?
Kini, keseluruhan penghuni sedang merancang sinergitas
Memiliki wujud yang bersifat gerakan bangsa
Menggemakan kualitas dalam pendidikan
Membentuk karakter dalam kepribadian
Menyatakan bahwa bangsa Indonesia adalah generasi emas
yang menjadi penguatan pendidikan karakter bangsa
Negara Indonesia!
Tautkan hari guru dalam menentukan generasi emas yang sesungguhnya
EDARAN
KELILING DI ATAS PANGGUNG
Karya : Maulana Rizky Pratama
Aku
menyusuri garis pemandu di atas trotoar
Menepikan lumut-lumut basah,
Hingga genangan air tadi sehabis hujan
Berjalan menjinjit dengan merentangkan tangan
sesuai irama yang datang
Bernyanyi dengan kecil-kecil merintik
Menari-nari bersama batang yang berbunga-bunga
Suara lantang diiringi kelap-kelip diatas awan
Mengucap
tanpa salam kepada tuan di tengah pembatas jalan
Kembalilah nyanyianku kepada jamaah yang tengah menunggu
‘hari ini, aku menaruh jejak di garis pemandu
‘mencipta arah masuk angin dari hilir ke hulu
‘meriang-riang dari ujung rambut sampai pelupuk mata dan kaki
‘menemukan seni di serat-serat tubuh ini
Kembalilah ke waktu yang tadi
Mungkin
semua orang benar dan telah sadar
Aku akan bermimpi tanpa menyusuri garis pemandu
Menyatakan dunia akan hampa tanpa keterampilan
Menguak perlahan-lahan karya demi karya
Menggait kreasi dalam inagurasi budaya
Haha Haha hehe,
Berjumpa dengan seni di atas panggung
Hasutan menari, menyanyi, berimajinasi, mengingat kata dalam naskah,
berteriak, mempesona tanpa harus menepikan lumut-lumut basah lagi
Aku bisa berkeliling sesuka hati diatas panggung
Aku akan mengedarkan ini kepada mata dunia
Semua harus tahu, semua benar dan semua telah sadar
FILANTROPI MILENIAL:
AKU BERSAMA CINTA
Karya: Maulana Rizky Pratama
Filantropi diciptakan
untuk di salah kaprakan
Dunia mengenal filantropi sebagai sumber daya finansial yang agung
Sesungguhnya, Aku bersama cinta telah menampakkan seutuhnya
Aku bersama cinta
‘tidak percaya akan datangnya kasih secara tiba-tiba
Aku bersama cinta
‘menyatakan filantropi bukanlah pembaharuan yang ekslusif
Aku bersama cinta
‘bersaksi bahwa filantropi menyiratkan nilai-nilai antar kemanusiaan
Cinta kasih telah beikrar
yang disaksikan oleh penghuni di seluruh dunia
Dibalik layar yang sebenarnya
mimpi telah bersekutu dengan impian
Sinar fajar selalu tepat membangunkannya
Semut-semut berteriak di kaki ranjang:
“Pahlawan, segeralah berjuang”
Dilukis oleh ukiran pena
dalam buku pendidikan
Seluruh peradaban mengakui jasanya:
Dialah yang dapat mewujudkan generasi emas
Dialah yang dapat menciptakan nuansa warna cendikiawan
Dialah yang dapat menumbuhkan bangsa yang berintelektual
Dialah yang dapat menentukan arah dalam pendidikan bangsa
Dialah yang dapat membentuk jiwa dan watak bangsa
Dialah anugreah abadi yang diturunkan untuk mengolah pengetahuan daya cipta
Abdi dan amalan yang mengoyak-ngoyak masa
kebodohan
Mendidik dengan kasih, tulus, cinta, adalah kunci utama dalam jasanya
Lihatlah perjuangan atas jasanya dari tampilan di balik layar
Dialah Pahlawan yang sebenarnya yang selalu disematkan
sebagai orang tanpa tanda jasa.
Kisah mencekam dan haru
terjadi pada dini hari tadi
Teriakan, menangis, sentakan suara yang gemuruh hingga kebahagiaan
di belakang surau oleh kulit-kulit serigala hitam
Apakah ini nasib atau takdir tuhan yang tersirat
Menemui secercah kekayaan dianggap penyerobot oleh sultan-sultan jalanan
Sepanjang jam, menit ataupun detik tidak
terlepas
dengan kicauan, auman, bahkan perangai dari sultan dan serigala hitam
Tidak begitu rumit untuk dihadapi
Hanya begitu sulit untuk dihindari
Tidak ada muslihat yang kunantikan untuk mengelak dari setiap
malam hingga bertemu kembali dengan bulan
MEMANGGIL SYAIR DI
SELIPAN LEMBAR
Karya: Maulana Rizky Pratama
Aku merasa lestari datang
bertamu
Bersalam dengan sekujur badan yang terasa dingin
Membawa sebongkah daging beku dan selipan lembar
Melihatnya alas kaki yang memikat taburan debu
sepanjang arah perantauan
Bergetar gamang saat kupanggil dengan lirih sendu
Kurasa puing-puing itu rimpuh
Aku mengupas catatan di
sampingnya
Menelisik coretan dan goresan yang terlantar
Memindahkan selipan lembar di atas himpunan syair
Sembari mengganyang daging beku perlahan
Bersenandung dengan kebisingan
irama
Memejamkan mata tanpa pangku tangan
Kulantukan syair ini untuk mengundang akal sehat
yang sedang tertidur pulas
Panggil-memanggil seperti sarayu
Setelah itu pudar
Mendayuh sunyi
Lestari pergi sudah diujung rona merah
Memanggil syair kembali telah samar
Puing-puing itu tidak rimpuh namun telah tumbang
Kemanakah aku mencari syair selanjutnya
MENELISIK
EMAS DI DALAM TINTA PENA
Karya: Maulana Rizky Pratama
Hari
baik, hari saksi abadi
Menempatkan fajar pada titik jingga merona
Memupuk diri dalam sebuah lembaran
Aku memperagakan semar dengan menapaki
pengabdian dan pendidikan kepada ksatria pandawa
Ketika semua menelisik:
“Oh”, honorer...
Saksi
abadi muncullah!
Aku mengunyah kerak tinta pena
Aku menantang atas kebengalan
Aku menanam ilmu dalam ruang literasi
Aku mempengaruhi anak muda dengan emas
Aku mengolah guna-guna dalam kemahiran,
pengetahuan, pemahaman, kesadaran...
Atas daya pikir dalam serat-serat tubuh manusia
Hari baik, hari saksi abadi
Jika semua menanyakan tentangku hari ini
Temuilah seseorang yang memungut tinta pena di pusat jalan raya
Menduduki
Kursi Kehidupan
Karya : Maulana Rizky Pratama
Kisah mencekam dan haru
terjadi pada dini hari tadi
Teriakan, menangis, sentakan suara yang gemuruh hingga kebahagiaan
di belakang surau oleh kulit-kulit serigala hitam
Menanti di ujung dan meratapi tujuan hidup di sudut muslihat tuhan
Sadar selama tiga bulan
menjelang gerhana peradaban,
Apakah ini nasib atau takdir tuhan yang terselip
Sekali lagi, aku sangat sadar
Menemui ketenangan bukanlah jalan hidup yang tepat
Menemui keadilan bukanlah cara yang akurat
Menemui kesabaran mustahil untuk dilakukan, bahkan
Menemui secercah kekayaan dianggap penyerobot oleh sultan-sultan jalanan
Pedoman tuhan yang mana
harus diikuti,
Sepanjang jam, menit ataupun detik tidak terlepas
dengan kicauan, auman, bahkan perangai dari sultan dan serigala hitam
Tidak begitu rumit untuk dihadapi
Hanya begitu sulit untuk dihindari
Kini menjalani hidup yang kelam adalah salah satu bagian dari skenario tuhan
Tidak ada kunci yang bisa diharapkan untuk mengelak dari
malam hingga bertemu kembali dengan bulan
MUARA SUMPAH SERAPAH
Karya: Maulana Rizky Pratama
Alkisah
Burung dan camar bercerita di perapian malam
Dengan membawa anak lilin dan sebongkah tanaman kuping gajah
Menyapa para pasukan semut yang berbaris layaknya tentara
Hingga bulan pun turut nimbrung tanpa mengucapkan salam
Sutradara memulai dengan mengatakan sumpah
Rumah bertangkai ini kusebut muara
Telinganya berdenging tersematkan gangguan-gangguan ritual
yang selalu dilakukan pada sepertiga siang
Menyusun sumpah serapah adalah adalah bagian dari cerita
Kini, apa yang dikatakan oleh sultan yang maha benar?
Dimana kutukan beserta sihir yang selalu diagungkan?
Kemana perginya sultan itu yang membawa kemegahan besar?
sehingga semua itu ternyata adalah silap mata pertunjukan
Kami bukan mencari kesengsaraan!
Kami bukan mencari petaka untuk mimpi yang diinginkan!
Kami bukan mencari siksa dan penderitaan!
Kami bukan mencari duka yang akan menyenangkan hati sultan!
Kami bahu-membahu dalam mencari akhir takdir tuhan
Kami hanya bisa menautkan tenaga hingga senja beralih malam
Turut berhentilah mengutuk kami sultan
Berhentilah menistakan kami
Berhenti sultan
PALUNG BUDAYA
Karya :
Maulana Rizky Pratama
Aku mencarimu
Aku mencari pancarona dari sudut-sudut yang tidak kukenal
Aneka rupa yang tersuguh dalam irama yang syahdu
Beragam jamaah dari poros maritim dunia
Mewariskan karya budaya dalam wujud tak benda
Mencatat eksplorasi wilayah dari sabang sampai merauke
Kutemukan 1.239 hingga saat ini
Aku bingung mencarimu
Hanya menemukan limat bait yang berasal dari pupuh
Menjumpai semboyan dari motto bangsa dan negara
Menyatukan arti dalam berbagai perbedaan
Aku tengah sibuk mencarimu
Menatap dari atas ujung depan hingga bawah ujung belakang
Berkeliling selama abad yang menentukan waktu
Era peradaban adalah ruang aku mencarimu
Menelisik dari gambar ke tulisan belum saja menemukanmu
Aku hanya ingin menyampaikan
pesan
Pelupuk hati nenek moyangku berkata:
‘Ikatlah seni dalam budaya di kota pahlawan”
‘tahan, jaga, lestarikan pertunjukkan di panggung balai pemuda’
Kembali lagi,
Aku tengah sibuk mencarimu dalam megahnya peradaban
RAMBU SILANG PADA
MALAM PUNCAK
Karya: Maulana Rizky Pratama
Malam puncak yang
mengemuka di pusat kota
Menyiratkan sebuah undangan di dalam akar rumput
Beramai-ramai menghampiri primadona sang mega bintang
yang mengukir sejarah negara
Mereka berjabat tangan, tersenyum lebar, duduk berjuntai
sembari menyeduh coklat bubuk manis
Disajikan sepiring dengan seporsi penyumbat telinga
Malam puncak segera dimulai
Tulisan singkat kucatat
pada insan jati diri!
Dunia telah mengetahui tentang angka 490
Penyerobotan lahan lindung dituntaskan oleh hitungan para ahli
Begitu juga surat keterangan lunas pada tahun 1998
Hingga panorama lainnya memunculkan terbitan sebuah intruksi
Mengepalkan pencegahan dan memberantas perangai-perangai tikus berdasi
Tulisan singkat
kupersembahkan pada insan jati diri!
Sembilan nilai membangun komitmen untuk menjauhi garis larangan
Tunaikan kejujuran dalam keberanian tanggung jawab
Bekerja keras secara mandiri atas kedisiplinan yang tercipta
Sederhana serta kepedulian menghasilkan keadilan terhadap manusia
Penerapan sembilan nilai patut ditanam sebagai payung keteladanan
Letakkan semua itu dalam rambu-rambu silang
Patuhilah rambu-rambu
silang...
Meskipun mereka riang memakai penyumbat telinga
Tulisan singkat kuamalkan pada insan jati diri!
TARING SANG PETARUNG
Karya: Maulana Rizky Pratama
Alkisah malang bermalam
Kambing bicara menyokong tirai bisu
Tubuh ini selalu bersenggama dengan derita
Terngiang ujung pecut itu menamatkan sukma
Hancur lebur menunggangi rasa mati di benak serat-serat tubuh ini
Menyapanya, termangu dengan histeris
Bergairah mengepal belati akan sumpah persemayaman
Menantang tanpa aksama wahai pendekar
Menyusup dengan bernadi daya guna perkasa
Sujud mati menandakan pengorbanan cahaya agung
Tibalah kilau bagaskara
di pucuk arunika
“Keluarlah cengkedi.. oh cengkedi..”
Membentangkan secabik kulit pohon
Menyatu api dengan bias talas keladi
Menatap bayang melambai-lambai di bagian birai
Semenjak itu, tong bergelimang aroma pahang usang
“Keluarlah cengkedi.. oh
cengkedi..”
Berligar-ligar di sekeliling balairung
Tabiat bersuil bersama para burung murai batu
Menilik bayangan bulan di tengah-tengah genangan air
Sembari mengadu tangguh sikap kuda-kuda
“Keluarlah cengkedi.. oh
cengkedi..”
Mengencangkan belati dengan titik desir angin
Detak jantung membancang kesengsaraan
Teringat ikatan palapa oleh permaisuri
Dijemput dengan beringas tanpa sisipan air mata
Bilur itu tidak sedang bercanda
Cairan darah menghampiri titisan dan leluhur
Mencongak suara tangisan dengan irama lirih
“Keluarlah cengkedi.. oh
cengkedi..”
Menunggumu dibatasi oleh aji-aji sinar rembulan
Janji temu disemayani kembali pada kilau bagaskara di pucuk arunika
Komentar
Posting Komentar