Implementasi Pepatah Jawa Lama Urip Iku Urup dalam Kehidupan Sosial Modern
PROLOG
Kehidupan manusia memiliki ketetapan jalinan kodrati yang tidak akan mampu menentang atas dirinya diciptakan sebagai makhluk hidup. manusia memiliki sifat dan perasaan yang dibawa sesuai dengan hati nurani. Dengan tatanan sikap dan tindakan sesuai dengan kodrat manusia maka munculnya nilai-nilai kehidupan manusiawi yang berupa makhluk berpikir, ingin lebih jauh mengenal dan dikenal, menggagas pemikiran-pemikiran yang menuai hasil yang hakiki, merefleksikan dirinya dengan sesama manusia dan pentingnya agama yang mendekatkan kepada tuhannya. Menjalani kodrat hidup sehari-hari dalam lingkungan dunia atas kehadiran suatu kesadaran dan tujuan keberadaan manusia di dunia.
Pemahaman secara rasional dari bagian kodrat yakni keberadaan dan kehadiran manusia adalah lahirnya kemurnian karakter manusia dalam suatu tata norma dan moral atas proses kehidupan di dunia. Manusia memiliki unsur-unsur yang membangun di dalam nilai kehidupan. Sebagaimana manusia beragama, bernegara, berbangsa, dan berbahasa. Seperti keberagaman masyarakat di negara indonesia. Dinamika kehidupan masyarakat indonesia dari zaman ke zaman meninggalkan sebuah kebudayaan, tradisi, kearifan lokal, pengetahuan, kepercayaan, nilai, norma, moral dan etika. Dari kondisi tatanan kehidupan masyarakat indonesia banyak aspek-aspek berbagai bidang kemajuan, dan terjaganya kondisi ekosistem lingkungan dan sumber daya sehingga pemanfaatannya dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas secara modernisasi.
Pembahasan artikel ini merealisasikan kembali kebudayaan terutama folklor lisan dalam pepatah jawa lama urip iku urup yang telah diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun kepada generasi penerus bangsa dengan nilai tata aturan etika dan estetika yang akan diimplementasikan terhadap pemahaman kehidupan generasi milenial/modern.
Implementasi Pepatah Jawa Lama "Urip Iku Urup"
Pendangkalan nilai rohani masyarakat modern semakin cenderung dalam pergeseran nilai-nilai tradisi, sehingga meredupkan paradigma nenek moyang sebagai manusia yang sangat santun dalam berinteraksi satu sama lain. Ketiadaan nilai sosial kekeluargaan, kebersamaan, dan tolernasi satu sama lain dapat menjadikan sebuah paradigma baru manusia sebagai masyarakat individualis. Maka hal itu folklor pepatah jawa lama urip iku urup adalah suatu hikmah dan hakekat manusia yang diwariskan secara turun temurun sebagai makna yang harus diamalkan di dalam kehidupan.
Menurut Danandjaja (2008) mengenai pemahaman folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turun temurun. secara tradisional dalam versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan maupun yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Ciri-ciri pengenal utama folklor menurut Danandjaja (1986:3-4) adalah :
- Penyebaran dan pewarisnya biasanya dilakukan secara lisan atau dengan gerak isyarat serta alat pembantu yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi,
- Folklor bersifat tradisional, yaitu disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar. Disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama 2 generasi.
- Folklor terdapat jenis versi yang berbeda-beda. Hal ini diakibatkan oleh cara penyebarannya yang secara lisan, melalui catatan atau rekaman, sehingga folklor dengan mudah dapat mengalami perubahan. perbedaannya terletak pada bagian caranya sedangkan bentuk dasarnya tetap sesuai dengan isinya,
- Folklor biasanya bersifat anonim (nama pencipta tidak diketahui orang),
- Folklor biasanya mempunyai bentuk berpola,
- Folklor mempunyai fungsi kegunaan dalam kehidupan bersama (kolektif),
- Folklor bersifat pralogis, dengan mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum,
- Folklor menjadi kepemilikan secara kolektif tertentu. sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya,
- Folklor bersifat polos dan lugu dengan pemaknaan yang penuh hikmah.
Begitu juga hubungan dengan istilah etika oleh Aristoteles (384-322 SM) menunjukkan etika itu adalah filsafat moral. Etika secara lebih detail merupakan ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang sejauh berkaitan dengan moralitas. Dalam sistem moral dan prinsip-prinsip dari suatu perilaku manusia yang dijadikan sebagai acuan sifat baik dan buruk, salah dan benar, serta sesuatu yang bernilai moral dan tidak bermoral. Etika muncul dari kebiasaan yang menilai kualitas penerapan konsep. Etika adalah sebuah ilmu yang berkaitan dengan ketertiban pokok masalah moralitas. Masalah moral tidak dapat dilepaskan dengan tekad manusia untuk menemukan kebenaran, sebab untuk menemukan kebenaran serta mempertahankan kebenaran dengan keberanian moral.
Menurut (Saryono, 1997). yaitu konsepsi ideal atau citra ideal tentang sesuatu yang dipandang dan diakui berharga yang hidup dalam alam pikiran; tersimpan dan terwadahi dalam norma-norma, aturan-aturan, dan hukum; terartikulasi, teraktualisasi, dan tereksternalisasi dalam ucapan, tindakan, perbuatan, dan perilaku sebagian besar anggota masyarakat sebagai kesatuan dan keutuhan. Dengan demikian, etika mencantumkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang harus dijadikan pegangan dalam menuntun perilaku dan etika memberikan kriteria bagi penilaian moral tentang apa yang harus dilakukan dan tentang apakah suatu tindakan dan keputusan dinilai sebagai baik atau buruk secara moral.
Urip Iku Urup yang berarti “Hidup itu Nyala”. Sebuah pepatah dari filosofi jawa yang membimbing nilai prinsip manusia menjadi orang yang lebih baik. Makna dari ungkapan pepatah jawa ini seringkali tidak diamalkan dan tidak dimengerti oleh sebagian besar keturunan masyarakat etnis Jawa di era milenial/modern. hal ini dapat mengancam akan redupnya keistimewaan tradisi folklor di jawa. Falsafah pepatah jawa urip iku urup dapat dikatakan sebagai pengingat manusia yang dinilai kuno dan ketinggalan jaman. Leluhur nenek moyang mewariskan salah satu kebudayaan pepatah jawa lama ini dengan meningkatkan pemikiran orang Jawa untuk mampu menambah wawasan kebijaksanaan di dalam kehidupan.
Falsafah pepatah urip iku urup memiliki makna bermoral yang hendaknya dapat memberikan manfaat bagi orang lain, serta menyadarkan manusia bahwa dilahirnya ke dunia bukan untuk bersifat individualis, semena-mena berkuasa dan semua hanya untuk diri sendiri, akan tetapi manusia dilahirkan untuk saling memberi, saling menolong dan saling membantu sesama tanpa ada rasa pamrih. Bahkan etika dan estetika kehidupan banyak memperjelas hal ini sebagai makhluk sosial dengan saling interaksi.. Pepatah jawa lama urip iku urup ibarat api yang menyala, api yang membara dengan penuh hasrat untuk berkobar menunjukkan keberadaanya. Sebagaimana cahaya yang selalu menyala dan menyinari setiap langkah manusia ke jalan yang benar.
Maka dari itu hidup manusia memiliki nilai norma dan moral yang selalu memberi cahaya yang terang agar setiap langkah manusia dapat berjalan ke arah kebenaran. Folklor falsafah jawa urip iku urup memiliki pemaknaan yang mendalam. Secara teoretis etika sebagai isi aturan tentang bagaimana manusia harus hidup baik dan berisikan perintah dan larangan tentang baik-buruknya perilaku manusia. perintah yang harus dipatuhi adalah kaidah norma yang memiliki nilai aturan yang harus dilakukan dan diamalkan.
Ungkapan falsafah urip iku urup dapat diimplementasikan ketika hidup kita mampu menjadi cahaya atau terang bagi sesama. Dengan melestarikan nilai-nilai norma yang dimaksudkan di dalamnya maka pemikiran dan tingkah laku perlu memandang kuantitas moral bagi manusia. Urip iku urup yang melandaskan bahwa hidup itu harus menerangi, bagai lilin yang berani meleleh untuk memberikan cahaya dalam kegelapan. Lilin memberikan kehangatan bagi mereka yang berada di sekitarnya, terutama yang membutuhkan. Hak diri sendiri mengamalkan tindakan (menerangi) ke orang lain adalah suatu hakekat hidup manusia yang saling melengkapi. Interaksi terhadap tetangga, atau masyarakat perlu memakai attitude yang bermoral.
Tingkatan unsur yang berbeda umur menjadi acuan bahwa siapa yang dihormati dan siapapun perlu untuk ditolong disaat mengalami kesusahan. Tidak ada batasan dalam bersikap moral meskipun adanya toleransi di setiap perbedaan. norma yang diajarkan dalam tatanan sosial masyarakat hendak memberikan manfaat bagi orang lain. Setiap manusia dituntut untuk berkontribusi bagi kebaikan kehidupan.
Makna filosofi urip iku urup bahwa manusia dilahirkan di dunia ini bukan untuk berdiri sendiri, berkuasa dan semuanya hanya untuk diri sendiri, akan tetapi manusia lahir untuk saling memberi, menolong dan membantu sesama tanpa pamrih. sebagai berkat kebermanfaatan terhadap orang lain dan kebaikan terhadap sesama secara ikhlas, inilah makna yang diharapkan dari falsafah pepatah jawa lama Urip Iku Urup.
Komentar
Posting Komentar